Pasal 1 & 2. Ta’rif & Pembagian Hukum.

Sebagaimana telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya, bahwa Tauhid itu ditetapkan oleh ‘Akal, Al-Qur’an dan Al-Hadits (Syara’) dan ‘Adat kebiasaan, dimana ketiga macam ini disebut Hukum. Oleh karenanya, sebelum dibahas tentang Tauhid perlu dibahas terlebih dahulu tentang hukum dan pembagiannya.

Pasal 1. Ta’rif Hukum.

“Menetapkan suatu perkara kepada suatu perkara yang lain, ataupun menghilangkan suatu perkara dari yang lainnya”.
Seperti; Menetapkan adanya sifat Qudrat kepada Allah, menetapkan Wajib terhadap Sholat yang lima waktu, menetapkan rasa Asin kepada Garam, menghilangkan sifat Lemah dari Allah, menghilangkan hukum Sunnat dari Sholat lima waktu, dan menghilangkan rasa Manis dari Garam.

Pasal 2. Pembagian Hukum.

Hukum, dilihat dari segi yang menetapkannya terbagi pada tiga bagian:
1. Hukum Syara, karena ditetapkan oleh Allah dan Rasulnya.
2. Hukum Akal, karena ditetapkan oleh Akal.
3. Hukum Adat, karena ditetapkan oleh Adat.

Penilaian diantara tiga hukum tersebut, secara berurutan adalah, yang paling kuat hukum Syara’ lalu hukum Akal dan terakhir hukum Adat. Jadi apabila terjadi pertentangan diantara tiga hukum tersebut, yang wajib diambil adalah ketetapan hukum Syara karena sumbernya Al-Qur’an dan Al-Hadits. Seperti contoh berikut ini:

1. Adanya Surga adalah wajib menurut hukum Syara, sedangkan menurut hukum Akal adalah mumkin adanya karena tidak ada yang wajib adanya selain Allah. Akan tetapi Allah telah menetapkan dalam hukum Syara bahwa surga itu ada, maka kesimpulannya adalah surga wajib adanya. Ketetapan wajib menurut hukum Syara seperti ini disebut Wajibul wujud muqayyad, oleh karenanya adanya surga tidak bisa disebut mumkin.

2. Adanya Hangus, menurut hukum Adat adat adalah wajib, karena setiap yang terbakar api pasti hangus, sedangkan menurut hukum Akal adalah mumkin adanya, karena apabila Allah tidak mentaqdirkan adanya hangus, api tidak akan mampu membuat hangus, nyatanya apabila yang dibakar itu basah, tidak akan hangus. Dalam Hal ini, ketetapannya adalah sebagaimana ketetapan hukum Akal, yakni hangusnya yang terbakar adalah karena kekuasaan Allah semata.

Namun demikian, Allah telah membuat hukum objektif, yaitu Sunnatullah. Maka apabila Allah menciptakan hangus akan melalui proses sebagai berikut:
a. Diciptakan api,
b. Dihubungkan api dengan benda yang dibakar,
c. Dihilangkan penghalang hangus, seperti basah,
d. Kemudian Allah menciptakan hangus pada yang dibakar.
Kaitan yang empat faktor ini biasanya tidak berubah, kecuali pada kejadian luar biasa, yang disebut Khowariqul Lil Adat, yang untuk lebih jelasnya akan dibahas kemudian pada bagian tersendiri.
Adapun perkataan kita dalam menjawab pertanyaan yang berbunyi: “Dengan apa kamu terbakar ??”, lalu jawaban kita, “Dengan api”. Perkataan ini boleh dan bahkan seharusnya, namun hanya sebatas kesopanan saja bukan dalam hakikatnya.

3. Melihat Allah di surga. Sepanjang hukum Adat adalah mustahil, tapi hukum Syara telah menetapkannya.
Pada hakekatnya antara hukum Syara dengan hukum Adat tidak terdapat pertentangan yang prinsipiil. Hal ini dibuktikan dengan adanya sebuah definisi yang dinyatakan dalam qaidah Fiqih: “Al-‘Aadatu muhkamatun syar’an”. Artinya: “Hukum Adat adalah landasan hukum Syara”.
Contoh: Hukum Syara memerintahkan agar seluruh manusia memelihara kesehatan, begitu pula menurut hukum Adat bahwa kesehatan itu wajib diperhatikan.

Artikel sebelumnya:
1. Mengenal Ilmu Tauhid

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s