Pasal 3. Hukum Syara’

Pasal 3 Hukum Syara’

Ta’rif Hukum Syara’:
“Menetapkan sesuatu kepada sesuatu yang lain, atau menghilangkan sesuatu dari yang lainnya, dengan melalui penetapan Wadhi’ (Yang menetapkan), yaitu Firman Allah, yang bertalian dengan pekerjaan orang Mukallaf, berupa perintah, larangan, anjuran atau tata cara pelaksanaan perintah dan larangan tersebut”.

Materi kata “Menetapkan sesuatu kepada sesuatu yang lain, atau menghilangkan sesuatu dari yang lainnya” adalah materi yang mempersamakan antara hukum Syara, hukum Adat dan hukum Akal.

Materi kata “Dengan melalui penetapan Wadhi (Yang menetapkan)” adalah materi yang membedakan antara hukum Syara dengan hukum yang lainnya, hukum Akal tidak ditangguhkan kepada adanya yang menetapkan, dan hukum Adat adalah hasil penyelidikan dari sering terjadi. Ta’rif semacam ini menurut Ilmu Mantiq termasuk kepada ta’rif had (ta’rif yang terkuat).

Materi kata “Yaitu firman Allah” adalah penjelasan dari materi sebelumnya, bahwa yang menetapkannya adalah firman Allah, baik langsung dari Al-Qur’an atau melalui sabda RasulNya (Al-Hadits). Adapun Allah dan RasulNya dinamakan Asy-Syari’u (Yang menetapkan hukum Syara).

Oleh karena yang menetapkannya adalah Allah dan RasulNya maka tidak seorangpun dapat intervensi didalam menetapkan hukum Syara. Dan bunyi hukum yang tidak bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits secara langsung atau tidak langsung, bukan hukum Syara.
Adapun bunyi hukum pendapat para Imam Mujtahid, adalah bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka termasuk dalil-dalil hukum Syara (Dalailusy-Syar’i). Hal ini dijamin dengan Al-Qur’an sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 7, yang artinya: “….Dan tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya, dan mereka berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat Mutasyabihat”, semuanya itu dari sisi Tuhan kami, dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya) kecuali Ulul Albab, yaitu orang-orang yang berakal sehat dan berfikir tajam”.
Demikian pula Rasulullah SAW memberikan jaminan kepada para Mujtahid dalam haditsnya yang berbunyi: “Apabila Hakim/Mujtahid menetapkan hukumnya dengan berijtihad terlebih dahulu, kemudian pendapatnya tepat sebagaimana yang dimaksud dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka Mujtahid tersebut mendapat dua pahala (satu pahala untuk ijtihadnya dan kedua pahala untuk ketetapannya). Dan apabila ijtihadnya tidak tepat sebagaimana Al-Qur’an dan Al-Hadits (Allah dan RasulNya) maka Mujtahid tersebut mendapatkan satu pahala (yaitu pahala ijtihadnya saja).
Dalam Hadits tersebut tidak terdapat data-data yang mempersalahkan Mujtahid, walaupun pendapatnya tidak tepat kepada sasaran dari Allah dan RasulNya, hal ini menunjukkan kepada kita bahwa pendapat para Mujtahid tersebut adalah benar, boleh dilaksanakan dan diikuti. Namun demikian perhatikan syarat-syarat ijtihadnya harus dipenuhi sebagaimana ketentuan Ushul Fiqih.
Begitu pula halnya dengan hukum Qiyas mendapat jaminan Al-Qur’an, sebgaimana firman Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 2, yang artinya: “Maka ambillah contoh (dari kejadian-kejadian itu) wahai orang yang mempunyai pandangan”.

Materi kata “Yang bertalian dengan pekerjaan orang-orang Mukallaf, bersifat perintah atau anjuran…. dst.” Materi ini menunjukkan bahwa firman Allah dan Rasul yang menjadi hukum Syara adalah firman yang ada kaitannya dengan amal perbuatan manusia yang baligh dan berakal sehat. Dan isinya menuntut untuk dikerjakan, baik yang berupa perintah, larangan atau anjuran. Jadi firman yang tidak ada hubungannya dengan amal perbuatan Mukallaf, tidak disebut Hukum Syara, seperti ayat-ayat yang menerangkan tentang penciptaan langit dan bumi, penciptaan manusia, kisah-kisah para Nabi dan sebagainya, seperti contoh pada ayat berikut ini:
a. Firman Allah yang bertalian dengan proses penciptaan manusia: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk”.
b. Ayat yang menceritakan kisah-kisah Nabi: “Dan (ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada Ayahandanya: “Wahai Ayahku ! sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, Matahari dan Bulan kulihat semuanya bersujud kepadaku”.
Contoh firman Allah yang berisikan hukum Syara adalah: “Kamu sekalian harus mendirikan sholat” (QS. Al-Baqarah 110)

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s