Pasal 5. Ta’rif/Definisi Syara’ (Agama Islam)

Ta’rif/Definisi Syara’ (Agama Islam) adalah:
Ketetapan Ilahi yang ditujukan untuk orang-orang yang berakal sehat, dengan pilihannya yang terpuji, untuk kebaikan/ kesejahteraan yang sejati bagi mereka”. [Jauhar Tauhid: 9]


Materi kata: ‘Ketetapan Ilahi (dari Allah)’, menunjukkan bahwa selain Allah dan Rasulullah tidak diperbolehkan intervensi (campur tangan) dalam menetapkan hukum Syara’.

Materi kata: ‘Ditujukan kepada mereka yang berakal sehat’, berarti yang tidak berakal sehat tidak menjadi sasaran hukum Syara’, seperti;
a. Jamadat, yaitu benda mati dan tidak tumbuh.
b. Nabatat, yaitu benda yang tumbuh (tumbuh-tumbuhan).
c. Hayawanat, yaitu benda hidup tetapi tidak berakal.
d. Orang gila dan Mabuk, karena mereka tidak berakal sehat.

Materi kata: ‘Dengan pilihannya sendiri yang terpuji/baik’, maka keluar;
a. Orang yang dipaksa.
b. Mulja ilaih, yang tidak mampu menguasai dirinya seperti orang yang jatuh ketika sedang melayang diudara.

Materi kata: ‘Untuk kebaikan/ kesejahteraan yang sejati bagi mereka’, artinya mengarah kepada sesuatu yang dzatiyyahnya baik bagi mereka. Yang dimaksud adalah, sarana hukum Syara’ memberikan petunjuk kepada orang-orang yang berakal sehat untuk mencapai dzatiyyah kebaikan di dunia dan di akhirat.

Sarana kebaikan tersebut, untuk di dunia antara lain:
a. Menjamin keutuhan akal.
Inti kemuliaan manusia adalah akalnya. Dalam hal ini Islam mengharamkan setiap yang memabukkan, seperti minuman keras, narkotika, berjudi dan sebagainya yang merusak akal. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 90, yang artinya: “Sesungguhnya Khamr (minuman yang memabukkan), berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan syetan”.

b. Menjamin keselamatan tubuh Manusia.
Untuk jaminan tersebut, Allah melarang melakukan hal-hal yang merusak kesehatan tubuh manusia dan bahkan mewajibkan dengan hukum fardhu Kifayah untuk mengadakan ahli kesehatan disetiap perkampungan (PUSKESMAS). Dan Allah mengadakan hukum Jinayat, sebagaimana firmanNya dalam surat Al-Maidah ayat 45, yang artinya: “Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka didalamnya (Taurat), bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-lukapun ada qishosnya”.

c. Menjamin kesucian keturunan manusia.
Kehidupan umat manusia dipengaruhi dengan stabilnya kehidupan rumah tangga, dan faktor hubungan kefamilian menentukan nilai seseorang. Untuk hal ini Islam menjamin keutuhan rumah tangga dengan diharamkan perzinahan, penyelewengan dari ketertiban, dan diselenggarakan pula peraturan-peraturan tentang pernikahan guna tercapainya keutuhan rumah tangga yang harmonis, sebagaimana firman Allah dalam surat Ar-Rum ayat 21, yang artinya: “Dan diantara kekuasaannya ialah Dia telah menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia telah menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”.

d. Menjamin keutuhan hak milik manusia.
Untuk jaminan tersebut hukum syara’ menyelenggarakan bab Mu’amalat dan bab Warits. Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 275, yang artinya: “Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.
Dan firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 11, yang artinya: “Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka) untuk anak-anakmu, yaitu bagian seorang laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan”.

e. Menjamin kehormatan manusia.
Untuk jaminan tersebut, hukum syara mengharamkan Qadzaf (menuduh zina), Sabbu (mencaci maki orang lain), Ghibah (menceritakan kejelekan orang lain dihadapan yang lainnya), dan penghinaan lainnya. Firman Allah dalam surat Al-Hujarat ayat 11, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokan) lebih baik dari pada mereka yang mengolok-olokan, dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olokan lebih baik daripada wanita yang mengolok-olokan”.
Dan firman Allah dalam surat Al-Hujarat ayat 12, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah sebagian kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah diantara kamu salah seorang yang memakan daging saudaranya yang mati, maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

f. Menghidupkan sosial (kegotong royongan).
Untuk jaminan tersebut, diwajibkan berzakat dan dianjurkan bershadaqah, hibbah, wakaf, membela fakir miskin dengan tenaga, fikiran, kedudukan dan lain sebagainya. Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 43, yang artinya: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku”.

Bersambung….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s