Pasal 6. Adat

Adat atau kebiasaan yang menjadi landasan hukum Syara’ berta’rifkan sebagai berikut:
“Sambungan yang ada kaitannya antara penyebab (sebab) dan yang di sebabinya (musabab), karena sering terjadi serta sah gagalnya, dan tidak ada kemampuan untuk membuktikannya”.

Materi kata: “Sambungan”, yang berarti kontak persambungan, maka sesuatu yang apabila antara penyebab dan musababnya tidak saling berhubungan bukanlah Adat. Seperti perkataan orang, “Karena ujung pagar menjorok ke rumah, si pemilik rumah menjadi sakit”. Padahal antara ujung pagar dengan dengan si Pemilik rumah yang sakit berjauhan/tidak kontak menyambung, ketetapan tersebut adalah bid’ah dan apabila ada yang demikian, itu hanyalah kebetulan saja.

Materi kata: “Yang ada kaitannya antara penyebab (sebab) dan yang di sebabinya (musabab)”, yang berarti antara sebab dan musabab ada kaitan, maka walaupun ada sambungan tapi tidak ada kaitan yang kongkrit, tidak termasuk kepada Adat. Seperti seseorang memakai batu cincin Sulaiman, lalu orang tersebut menjadi kaya, padahal antara kekayaan dan memakai batu cincin tidak ada kaitan yang kongkrit (rasional), maka penetapan ini bukan Adat karena irasional. Andaikata hal tersebut ada, itu hanyalah kebetulan saja atau termasuk kepada sihir Himiya.

Materi kata :“Karena sering terjadi”, artinya persambungan tersebut harus berdasarkan sering terjadi, maka kejadian-kejadian yang sifatnya insiden (sewaktu-waktu) tidak termasuk Adat. Seperti adanya Mu’jizat para Nabi, Karomah para Wali, atau sihirnya orang-orang fasik.

Materi kata: “Serta sah gagalnya”, artinya persambungan tersebut bisa gagal. Dari materi ini muncul yang disebut Khawariqul lil Adat (kejadian luar biasa), seperti yang dibakar tidak hangus, dibacok tidak luka, dsb.

Untuk penjelasan lebih lanjut tentang Khawariqul lil Adat, insya Allah akan dibahas pada bab Wahdaniyyah.

Materi kata: “Dan tidak ada kemampuan untuk membuktikannya”, artinya Adat tidak mempunyai kemampuan untuk menciptakan/mambuktikan suatu kejadian, hangusnya yang terbakar bukan karena api, kenyangnya perut setelah makan bukan karena makanan, turunnya hujan bukan karena mendungnya cuaca, melainkan karena kekuasaan Allah semata. (Lihat contoh pada pasal 2).

Ta’rif/Definisi Adat tersebut merupakan dasar hukum Adat, dan dari Adat ini lahir beberapa ilmu:
a. Ilmu Nabatat = Ilmu Tumbuh-tumbuhan/Flora.
b. Ilmu Hayawanat = Ilmu Kehewanan/Fauna.
c. Ilmu Jamadat/Haiat = Ilmu Teknologi.
d. Ilmu Pertambangan; seperti Geologi.
e. Ilmu Samawat/Falak, Astronomi/Tata Surya.
f. Dan lain sebagainya.

Dalam hal ini hukum Syara menetapkan hukum Fardhu Kifayah adanya seseorang dari orang Islam yang menguasai ilmu-ilmu tersebut. Maka hendaknya kita sebagai umat Islam harus menjadi pelopor dalam menguasai ilmu-ilmu tersebut, setidaknya satu orang dari satu daerah harus ada.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s